SMA NEGERI 1 CICURUG (www.herdilusdianaspd.blogspot.com)
SELAMAT DATANG DI BLOG PELAJARAN GEOGRAFI

Jumat, 16 Maret 2012

Makalah Mitigasi Bencana (Gunung Api)



BAB II

STUDI LITERATUR


2.1 Pengertian Gunung Api
Gunung Api yaitu tempat-tempat di bumi di mana batuan cair dan panas menyembur melalui permukaannya. Tempat-tempat ini disebut gunungapi. Di bawah gunungapi terdapat ruang raksasa yang dipenuhi batuan panas (cair), yang disebut ruang magma. Di dalam ruang magma tekanan bertambah seperti tekanan dalam kaleng minuman bersoda yang digoncang-goncang. Abu, uap panas, dan batuan cair yang disebut lava keluar dari puncak gunungapi – inilah yang disebut letusan.
Dengan kata lain, gunungapi adalah rekahan pada kerak bumi, tempat keluarnya lelehan batuan cair (yang disebut magma) dan gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Kata ‘volcano’ (gunungapi) berasal dari nama sebuah pulau Romawi kuno bernama ‘vulcano’ yang terletak di baratdaya pantai Itali. Bangsa Romawi percaya bahwa ‘Vulcan’, dewa api dan pembuat senjata, menggunakan gunungapi di pulau tersebut.
         Gunungapi meletus dengan berbagai cara dan memiliki berbagi bentuk. Sebagian besar gunung berapi memiliki tabung pusat yang disebut pipa, hingga mencapai diatrema (lubang terbuka). Sebagian gunung berapi memiliki lava encer, seperti yang ada di Hawaii. Lava mengalir dari diatrema dan membentuk kubah yang disebut gunung berapi perisai. Gunungapi lainnya memiliki lava yang kental. Ketika gunung-gunung berapi tersebut meletus, gas-gas yang terkandung pada lava mebuatnya meledak menjadi serpihan-serpihan abu. Abu tersebut mengendap di atas lava sehingga membentuk gunung berapi kerucurt. Kaldera, tau gunungapi kawah, terbentuk pada saat puncak gunungapi kerucut meledak dan tenggelam ke dalam ruang magma.


2.2 Jenis letusan Gunung Api
Magma panas dan cair cenderung naik ke permukaan bumi karena lebih ringan atau lebih rendah rapat beratnya dibandingkan dengan batuan pada di sekitarnya. Magma kemudian terkumpul dalam dapur magma (magma chamber). Saat mendekati permukaan bumi tekanan berkurang sehingga gas-gas yang terkandung dalam magma mengembang. Pengembangan gas ini dapat melontarkan magma melalui bukaan atau lubang kawah (vent) yang menyebabkan terjadinya letusan atau erupsi gunungapi. Magma yang terlontar kemudian disebut sebagai lava. Aktivitas gunungapi sangat bervariasi, mulai dari emisi gas dan lava secara non-eksplosif sampai letusan dahsyat yang berlangsung lama. Tipe erupsi /letusan dipengaruhi atau ditentukan oleh volume relatif dan tipe bahan gunungapi yang pada akhirnya secara bersamaan juga mempengaruhi          bentuk            dan ukuran suatu gunung api Erupsi/letusan gunungapi akan bersifat eksplosif atau tidak eksplosif secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor berikut. Yaitu Viskositas/derajat kekentalan dan kandungan gas dan air.
Berdasarkan posisi sumber erupsi/letusan maka dikenal paling tidak dua tipe gunungapi, yaitu gunungapi dengan letusan/erupsi terpusat (central eruption) dan gunungapi dengan letusan/erupsi celah (fissure eruption). Pada erupsi terpusat, lava dan bahan lain dilontarkan melalui satu kawah utama yang terdapat pada puncak gunungapi. Kawah tersebut dihubungkan ke dapur magma oleh satu saluran atau lubang kepundan. Gunungapi dengan erupsi terpusat merupakan gunungapi yang umum hampir di semua tempat, jadi tidak ada lingkungan yang khusus bagi terbentuknya gunungapi dengan erupsi /letusan terpusat. Gunungapi dengan erupsi/letusan terpusat dapat pula menghasilkan erupsi/letusan melalui celah / rekahan yang terbentuk di lereng dan disebut sebagai erupsi samping.
1.3  Gunung Api Di Indonesia

Gunung api di Indonesia merupakan bagian dari Busur Sunda yang membentang sepanjang hampir 3000 km dari ujung utara Sumatera sampai Laut Banda. Kebanyakan gunungapi tersebut merupakan produk subduksi lempeng India-Australia di bawah lempeng Eropa-Asia. Indonesia memiliki gunungapi yang aktif sejak tahun 1600 paling banyak (sekitar 76 gunungapi) dengan jumlah aktivitas erupsi sekitar 1200-an. Jika jumlah tersebut digabung dengan jumlah erupsi di Jepang (sekitar 1300-an) maka hal tersebut merupakan sepertiga dari seluruh aktivitas erupsi/letusan.
Berdasarkan ada/tidaknya aktivitas erupsi sejak tahun 1600 maka di Indonesia dikenal gunungapiSebagaiberikut:
Tipe-A : Gunungapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600 (historically active volcanoes).
Tipe-B : Gunungapi yang sesudah tahun 1600 tahun belum lagi mengalami erupsi magmatik namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.
Tipe-C : Gunungapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/ fumarola pada tingkat lemah.
TINGKAT BAHAYA GUNUNGAPI
1. Aktif Normal (Level I)
Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan.
2. Waspada (Level II)
Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.
3. Siaga (Level III)
Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual/pemeriksaan kawah, kegempaan dan metoda lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan cenderung diikuti letusan.
4. Awas (Level IV)
             Menjelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu/asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama .

BAB III
PEMBAHASAN

Peristiwa bencana alam merupakan salah satu penyebab munculnya krisis bagi jiwa manusia. Bencana alam akibat meletusnya gunung merapi di Yogyakarta menyisakan trauma bagi penduduk sekitar lereng gunung merapi. Trauma gempa bumi oleh gunung merapi mengakibatkan penduduk kehilangan keluarga, rumah dan pekerjaan. Kondisi batin mereka sedih, hancur dan khawatir akan terjadinya gempa. Gunung merapi seolah sedang jadi "lakon". Gunung yang mempunyai ketinggian 2968 m dari permukaan laut dan terletak lebih kurang 25 km dari Yogyakarta itu, belakangan memang tak pernah absen menghiasi hampir semua media, cetak maupun elektronik. Sekian ribu nyawa melayang dalam sedetik. Sekian rumah roboh dan luluh lantak. Orang-orang tahu pahit getirnya musibah bencana alam. Sementara itu ribuan pengungsi kebingungan. Mereka baru saja pulang ke rumahnya kemarin pagi, kembali kepengungsian           sore(15-Juni-2006).
             Korban akibat bencana telah menyebabkan derita dan tangis korban.
Data sementara jumlah siswa yang meninggal akibat bencana gempa bumi di Klaten mencapai 49 orang dan guru meninggal sebanyak 15 orang. Namun jumlah tersebut kemungkinan bisa bertambah karena Dinas P dan K Klaten masih terus melakukan pendataan. (Kantor Dinas P dan K Kabupaten Klaten, Kamis (8/6). Korban gempa lain, meninggal tujuh orang korban gempa akibat tetanus. Terlambatnya melakukan sosialiasi suntikan antitetanus telah merenggut masyarakat.(16-Juni-2006). Korban terus bertambah seiring kondisi alam makin mengganas, meluluhlantakkan perkampungan di lereng merapi. Meluluhkan harapan masyarakat untuk hidup tenang sejahtera.

3.1 Penggulangan dan Pertolongan pertama yang diberikan pemerintah
Dalam menanggulangi bencana gunung merapi, pemerintah menempatkan tingkatan-tingkatan aktifitas gunung yang dibagi dalam 4 tingkat. Diantaranya :
1. Aktif Normal (Level I)
2. Waspada (Level II)
3. Siaga (Level III)
4. Awas (Level IV)
Sedangkan upaya yang di lakukan pemerintah setelah terjadi bencana gunung meletus adalah sebagai berikut :
    1. Menjauhkan para korban dari tempat bencana
    2. Mendirikan posko pengungsian bagi masyarakat yang terkena bencana
    3. Mendirikan dapur umum darurat / penyedian bahan makanan
    4. Menyediakan posko kesehatan

3.2    Konseling Untuk Korban Bencana Gunung Merapi

Selain pertolongan pertama, pemerintah pun mengupayakan pemulihan mental para korban, Salah satunya dengan cara konseling yang diberikan oleh para konselor baik itu yang ditinjuk langsung oleh pemerintah, maupun para sukarelawan.
Upaya konseling terhadap korban bencana selayaknya diberikan. Para korban memerlukan bantuan mengatasi perasaan kehilangan orang yang dicintai. Mereka butuh menata masa depan yang tak menentu akibat lingkungan baru. Banyak orang yang kehilangan, dan hancur semangatnya ketika orang dekat mereka meninggal. Upaya konseling singkat berfokus pada solusi menjadi alternative menolong orang-orang yang cemas dan penuh rasa takut ditengah bencana. Bagaimana bentuk konseling

Pertama, konselor menanyakan keadaan korban tentang perasaan mereka. Apa keluhan dan kesakitan yang tengah mereka hadapi. Bagaimana sedihnya kehilangan keluarga dan harta benda yang mereka cintai. Konselor mesti mengetahui persis kerisauan-kerisauan yang dihadapi oleh korban pasca gempa. Ketakutan yang tengah menimpa jiwa mereka dan bersikap empatik atas penderitaan yang tengah dihadapi.

Kedua, setelah menanyakan tentang kerisauan dan ketakutan yang dialami oleh Korban, selanjutnya konselor melangkah pada pertanyaan yang berfokus solusi. Konselor segera mengalihkan pada upaya solusi yang akan dilakukan oleh korban. Bagaimana korban menyikapi situasi krisisnya. Korban diajak untuk berpikir rasional tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan menghadapi situasi sulit. Misalnya, bagaimana korban akan terus eksis di saat kehilangan orang tua mereka? Upaya apa yang akan di tempuh untuk meneruskan pendidikan mereka? Dan langkah apa yang akan dilakukan saat ini mengatasi kesedihannya? Dengan kolaborasi antara korban dan konselor, akan mempercepat upaya bangkit dari kegelisahan.

Ketiga, Konselor membantu korban menemukan kekuatan diri mereka untuk melangkah maju. Misalnya, konselor menanamkan nilai berani mengambil resiko untuk tinggal di tempat baru yang lebih aman dari sasaran weddus gembel atau hujan debu. Dengan menemukan insight (pengetahuan) pada diri korban bencana, akan meringankan beban mereka dari keputus asaan. Para korban akan tegak berdiri menerima realitas mereka yang kehlangan sanak saudara dan rmah serta pekerjaan. Para korban menemukan cara untuk melanjutkan hidup yang telah hancur disambar gunung merapi. Membantu mengajak mereka untuk menyikapi hidup secara tepat       
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
            Gunung merapi yaitu tempat-tempat di bumi di mana batuan cair dan panas menyembur melalui permukaannya. Tempat-tempat ini disebut gunungapi. Di bawah gunungapi terdapat ruang raksasa yang dipenuhi batuan panas (cair), yang disebut ruang magma. Di dalam ruang magma tekanan bertambah seperti tekanan dalam kaleng minuman bersoda yang digoncang-goncang. Abu, uap panas, dan batuan cair yang disebut lava keluar dari puncak gunungapi – inilah yang disebut letusan Dari penjelasan yang telah disanpaikan pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya bencana alam yang terjadi dapat merugikan banyak pihak.
            Selain itu, bencana yang terjadi pun bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi menjadi tanggung jawab semua pihak. Dan konseling untuk para korban bencana sangat dibutuhkan untuk memulihkan trauma yang terkena dampak letusan gunung merapi.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar